Aku & Covid19 – Bagian 1

0

Ceritaku menjadi LC (lulus covid19) bagian pertama.

BANDUNG, akwnulis. Perjalanan tugas satu minggu ini memang begitu padat dan tanpa kompromi. Diawali agenda di kabupaten purwakarta dalam rangka Rapat evaluasi PT Jamkrida dlanjutkan esok harinya selama 2 hari menyusuri jalur pantura diawali dengan evaluasi kinerja wilayah Cirebon raya hingga tuntas di Indramayu sana lalu kembali ke basecamp di Bandung, lalu esok harinya pulang pergi ke garut meskipun tenggorokan mulai gatal dan terbatuk-batuk.

Sementara itu, penyebaran covid19 baru mulai resmi dinyatakan melanda negeri tercinta. Suasana menjadi berbeda, ketakutan kegalauan dan kebingungan melanda semua kalangan, tak terkecuali kami, bagian dari aparatur pemerintahan yang mendapat tugas mengawal, membina dan mengevaluasi kinerja hampir 30 lembaga keuangan yang sebagian sahamnya dimiliki oleh pemerintah provinsi jawa barat.

Maka skenario tatap muka dengan seluruh lembaga ini perlu dilakukan penyesuaian, tentu atas nama menjaga prokes dan keselamatan semuanya.

Tentu di awal sedikit tertatih dan gamang karena perubahan ‘terpaksa’ yang begitu mendadak. Dari tatap muka menjadi tatap layar, dari bercengkrama langsung menjadi berbalas chat di zoom…

Maka pergerakan kamipun dibatasi dengan cara tetap tatap muka yang minim namun dilengkapi zoom meeting untuk memberi peluang semua mitra tetap bisa ikut meeting bersama.

Nah perjalanan terakhir inilah yang kemungkinan membuat kami kelelahan dan akhirnya imun menurun dan tak kuasa melawan terpaan virus covid19 d pertengahan tahun 2020.

***

Kami berempat kompak, satu mobil berkeliling selama satu minggu, tepatnya senin hingga jumat dan di hari sabtunya demam tinggi disertai pusing dan rasa tidak nyaman di tengorokan dengan batuk kering yang mulai menyiksa.

Padahal kami selalu taat protokol kesehatan, double masker termasuk facedhield, semprat semprot handsanitizer juga rajin mencuci tangan dengan sabun. Namun itulah takdir yang harus dihadapi.

Vonis kena covid19 ini diawali dengan pemeriksaan antigen di lankesda jabar, dan setelah berempat dilakukan tes antigen via hidung, kami diharuskan menunggu hasilnya padahal yang lain setelah tes diperailahkan pulang untuk menunggu hasil. Apalagi tiba-tiba tempat duduk bekas kami tes langsung disemprot oleh petugas ber-APD lengkap.

“Wah gawat nih, jangan-jangan kena covid nich” itu yang muncul dibenak kami. Dimana suasana pertengahan tahun 2020, masih pada takut dan seolah covid19 adalah aib. Kami berempat begitu tegang.

“Silahkan pak, kita swab PCR” Suara tegas petugas membuyarkan kebingungan kami, dan segere kembali antri untuk merelakan hidung ini dicolok lagi.

“Bapak-bapak hasil tes antigennya reaktif, lalu sambil menunggu hasil tes PCR dimohon memisahkan diri dari keluarga ya”

Hanya anggukan lemah yang menandai persetujuan dari kami, lalu keluar dari area labkes dengan gontai. Apa mau dikata, inilah kenyataan yang harus dihadapi. Kami berempat berpisah dengan membawa kebimbangan masing-masing. Sementara rasa panas dan kering ditenggorokan semakin menyiksa ditambah pusing dan lemas plus bersin-bersin terus mendera.

Setelah info ini sampai ke istri dan keluarga, sontak menjadi ketegangan kolektif. Apalagi kontak erat dengan orang rumah begitu intens dikala sedang demam beberapa hari yang lalu. Di rumah tidak hanya anak dan istri, namun ada mamah mertua, kakak ipar dan anaknya, adiknya ayah mertua dan pembantu… duh jangan – jangan.

Benar saja perkiraan ini, setelah mengasingkan diri dari keluarga dan tinggal ditempat berbeda  hasil swab PCR kami keluar dan berempat dinyatakan positif covid19 dengan nilai CT dibawah 20, malah penulis sendiri nilai CTnya 15. Sebuah nilai yang waktu itu dianggap ‘berbahaya’ atau beresiko karena semakin rendah nilai CTnya maka semakin besar peluang untuk menyebarkan virus ini kepada orang lain.

Maka koordinasi intens dengan dokter di dinas kesehatan provinsi jabar, akhirnya kami masuk ke tempat isolasi mandiri pemprov jabar yaitu di area BPSDM Prov jabar di daerah Cimahi utara.

Setelah mengikuti berbagai rangkaian tes, kami berempat masuk di pusat isolasi mandiri dan ditempatkan di tower yang berbeda. Terasa terasing dan kesepian serta kondisi tubuh terasa berbeda. Pusing masih mendera dan batuk kering plus lemas serta terkadang seperti demam tapi normal lagi dan nggak berapa lama panas lagi suhu tubuh ini, ditambah lidah kok kebas ya?.. agak hambar pas makan nasi atau kue yang tersaji…….

Bersambung ke AKU & COVID19 Bagian 2.

Author: andriekw

Write a simple story with simple language, mix between Indonesian and Sundanese language.

Leave A Reply

Your email address will not be published.