Menggenggam Kenyataan.

0

Cerita genggaman dan seteguk rasa.

BANDUNG, akwnulis. Mata tiba-tiba terbuka dan agak terhenyak, “Astagfirullohal adzim, belum shalat isya” segera terbangun dan mengangkat raga menuju kamar mandi untuk berwudhu. Sejenak memicingkan mata dan berusaha fokus melihat jarum jam yang sedari tadi memandang dengan senyuman khasnya.

Alhamdulillah baru jam 02.30 wib” Sejumput syukur menguatkan hati untuk segera berwudhu. Berarti tadi pas tengah malam baru bisa pulang ke rumah setelah berkejaran dengan tugas dunia, membersihkan diri mandi dan berganti pakaian lalu sebentar merebahkan badan di kasur empuk samping sang istri dengan tujuan hanya sebentar untuk meregangkan badan dan meluruskan kembali tulang – tulang plus otot tubuh agar bisa rehat sejenak.

Ternyata perilaku pelor (nempel molor) langsung beraksi. Reup we tertidur…. nikmaat.

Nah dengan terbangun mendadak, maka kesempatan shalat isya tidak terlewat. Meskioun dada masih berdegup lebih kencang karena pendadakan yang menghenyakkan.

Sebuah syukur kembali terpanjat, karena sebuah rasa lelah dan capai dalam siklus kehidupan adalah salah satu berkah yang penuh makna. Lelah dan mengantuk itu sebuah cara agar kita sebagai hamba bisa paham bahwa kita bukan apa-apa, hanya seonggok raga tanpa daya sesuai dengan kehendak Illahi Rabb Allah Azza  Wa Jalla. Begitupun bisa terbangun di sisa waktu juga semua kehendak-Nya.

***

Shalat isya dan doa – doa sudah terpanjatkan, tetapi sebelum kembali rebah di peraduan, rasa haus memaksa untuk keluar kamar. Menyalakan lampu di ruang makan.

Bray….

Ternyata di samping gelas di meja makan, beberapa cicak sedang bermain dengan leluasa. Ketiganya terdiam karena kaget dengan hadirnya cahaya. Tanpa berfikir panjang inilah saatnya mencoba kekuatan dan kecepatan tangan.

Hupp…. sebuah sapuan tangan kanan menangkap binatang lincah kenyal kenyal. Meskipun tentu harus merelakan 2 ekor cicak lainnya kabur dengan kecepatan tinggi, tetapi satu cicak sudah aman di genggaman.

Geli sih, juga kasihan melihat 2 mata kecilnya memelas untuk dilepaskan. Tetapi mohon bersabar ya cicak, kita photo dulu… tangan kanan mengambil smartphone dan .. cekrek. Sebuah photo genggaman tangan dan cicak terabadikan.

Setelah itu segera menuju pintu belakang, membuka pintu perlahan agar tidak mengganggu heningnya malam. Menuju halaman belakang dan melepaskan cicak di tanah basah karena embun dini hari yang merata menjaga rasa.

Alhamdulillah, secara tidak langsung latihan kegesitan tangan sudah dilakukan. Jika minggu lalu di tes dengan alat khusus untuk mengukur kekuatan genggaman oleh temen – temen BKOM. Maka dini hari ini kelenturannya diuji untuk menangkap cicak dan menggenggamnya tanpa membuat tersiksa sebelum dilepaskan.

Akhirnya dini hari dilanjutkan dengan menikmati seteguk air hangat dalam suasana temaram lalu kembali bergerak menuju peraduan. Wassalam (AKW).

Author: andriekw

Write a simple story with simple language, mix between Indonesian and Sundanese language.

Leave A Reply

Your email address will not be published.