PECINTA KOPI – asal muasal

0

Belajar mencintai dan menikmati…

LEUWIPANJANG, akwnulis. Sebuah sebutan semakin sering terdengar dan menjadi hal biasa manakala ada komentar dan pendapat yang menyebut tentang ‘pecinta kopi’.

Cinta atau love memiliki sejarah panjang, tentu hadir seiring adanya mahluk manusia dimuka bumi ini. Jika wikipedia membagi menjadi 4 istilah yaitu eros, philia, agape dan storge. Dimana eros lebih cenderung bentuk cinta yaitu romantisme, asmara, dan hawa nafsu. Maka philia adalah rasa sayang yang hadir bagi keluarga dan teman-teman. Pada saat rasa cinta ini hadir untuk keluarga dan tuhan, maka sebutannya adalah agape. Lalu dikala cinta ini fokus pada patriotisme, nasionalisme dan narsisme itu disebut storge.

Walah jadi serius ya?…. gpp atuh mungpung masih pagi.

Lalu klo pencinta kopi masuk kemana?”

Nah kalau melihat empat istilah tersebut lebih cenderung ke eros dan philia, karena rasa keinginan ngopi yang menggebu ini terbit dari rasa kasih sayang kepada sang istri yang juga coffeelover, dimana prinsip penulis simpel, kesenangan istri adalah hobby suami, titik.

Sebelum menikah tidak terlalu fokus dan menyukai kopi. Tetapi pas momentum pertemuan pertama dengan istri di salah satu cafe kopi di bandung utara dan juga langsung minum kopi… waktu itu belum kohitala (kopi hitam tanpa gula) tapi kopi bergula… nikmat pisan.. sruput… kenalan, dilanjutkan dengan diskusi tanpa tendensi, bubar kembali ke dunia masing-masing. Tetapi 1,5 bulan kemudian dilakukan prosesi lamaran dan alhamdulillah bisa bersama-sama meraih keluarga samawa, Amin Yaa Robbal alamin.

Menukil buku The Art of Loving, maka Erich Fromm menyebutkan 4 gejala terkait cinta yaitu : care, responsibility, respect and knowledge akan muncul semua secara seimbang dalam pribadi yang mencintai.

Keempat prinsip ini yang bergerak seiring rasa sayang sama istri juga menemukan kenikmatan bersama kopi. Ternyata menemukan sesuatu yang menggebu disaat menikmati kopi tanpa gula dengan metode giling dan seduh sederhana. Karena sensasi rasa di lidah ternyata bervariasa juga yang diwakili oleh 3 istilah yaitu BAAT (body, acidity & after taste)… makin cinta deh sama istri dan kopi.

Maka istilah KOHITALA (kopi hitam tanpa gula) menjadi penciptaan sederhana. Bukan klaim ini mah, mungkin aja sudah ada yang menggunakan singkatan ini sebelumnya. Tapi kalau belum, ya di klaim aja atuh sebagai pencetus singkatan ini. Bismillah.

Sebuah konsistensi dimulai dengan menuangkan dalam tulisan berbagai aktifitas me-ngopi ini dan semuanya didasari dari pengalaman pribadi bersama kopi. Kohitala dengan manual brew V60 adalah andalan, tetapi sesekali menikmati hadirnya sedikit campuran seperti susu ataupun coklat juga sejumput gula jikalau dirasakan perlu untuk mengalihkan rasa amis (hanyir, bhs sunda) pada sajian kopi telur.

Kopi telur?”

Iya kopi telur, kopi hitam dicampur telur bebek mentah, eh nanti aja ceritanya ya… sabbb bar.

Maka istilah pecinta kopi ini baru sebatas penikmat kopi dan menuangkan dalam kata plus kalimat di blog pribadi ini, lalu video singkatnya di channel youtube @andrie kw serta next time kita susun buku tentang kopi dengan alternatif judul ‘Coffee & Me.’

Sah khan jadi pecinta kopi sekaligus pecinta istri….. hehehe?”

Jadi, lets go, “Apakah sudah ngopi pagi ini?”

Sruput, Alhamdulillah. (AKW).

Author: andriekw

Write a simple story with simple language, mix between Indonesian and Sundanese language.

Leave A Reply

Your email address will not be published.