Teh Gesat.

0

Teh memberi ketenangan…

BANDUNG, akwnulis. Berjibaku dengan angka dan aneka rumus regresi sederhana ternyata memanaskan otak dan perasaan. Ada rasa tegang menggelayut disaat memasuki ruang pertemuan, karena ternyata sebuah beban mencengkeram pundak dikala nanti tidak mampu menjelaskan.

Selain itu, kinerja dari apa yang dijelaskan adalah juga beban tanggung jawab yang harus juga diungkapkan dengan segala kelebihan dan kekurangannya… ah angka-angka menari seiring menit melingkari detik yang tetap bergerak tak mau sejenak berhenti.

Duduk di kursi empuk ternyata belum bisa mengurangi ketegangan, apalagi ada beberapa angka dihalaman depan yang secara logika hitungan terjadi anomali perbedaan…. aduh gimana ini.

Keringat dingin perlahan hadir, tapi apa mau dikata. Tidak sempat berlari ke ruangan untuk sekedar mengubah menjadi penyempurna. Apalagi mencetak ulang dokumen tebal ini yang penuh bertabur angka dan warna…. pasrah saja ah.

Photo : Teh Gesat / dokpri.

Ternyata, ada penenang raga dihadapan mata. Secangkir teh gesat yang masih mengepulkan asap panas kesegaran terlihat malu-malu, membuat gemas dan diyakini ternyata mengirim sinyal kedamaian.

Sebelum bos hadir di ruang rapat, segera buka masker kain dan masker medis yang digunakan, simpan dengan hati-hati lalu pegang dan angkat cangkirnya, dekatkan ke mulut dan sruput perlahan…. hmmmm kehangatannya menenangkan. Di mulai dari area mulut hingga akhirnya tiba di lambung. Ahh…. segar dan menenangkan.

Angka-angka masih tetap berada dalam lembar laporan, tetapi sekarang tidak terlalu terasa menegangkan. Tenang saja, jikalau salah berarti perbaikanlah yang harus disegerakan.

Selamat sore bapak ibu, maaf lama menunggu….” saapan akrab dari pak bos semakin mengurangi ketegangan yang ada.

Selamat sore pak” serempak suara menjawab dengan senyuman masing-masing yang sebenernya tertutup masker. Minimal gurat mata menyiratkan senyum tulus apa adanya.

Meeting dimulai dan angka-angka menari memunculkan sejumlah arti. Biarkan semua berjalan dan takdir sore semua tuntas dikala menyambut adzan magrib yang berkumandang. Wassalam (AKW).

Author: andriekw

Write a simple story with simple language, mix between Indonesian and Sundanese language.

Leave A Reply

Your email address will not be published.